Analisis Pola Operasi dan Kebutuhan Sarana Light Rail Transit (LRT) Jakarta Lintas Pegangsaan Dua-Manggarai

Authors

  • Agus Nugroho Program Studi Infrastruktur dan Lingkungan, Fakultas Teknik Transportasi dan Logistik, Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Indonesia
  • Totok Suryono Program Studi Infrastruktur dan Lingkungan, Fakultas Teknik Transportasi dan Logistik, Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Indonesia
  • Sohibul Ulum Program Studi Infrastruktur dan Lingkungan, Fakultas Teknik Transportasi dan Logistik, Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Indonesia
  • Haniva Mulyani Program Studi Infrastruktur dan Lingkungan, Fakultas Teknik Transportasi dan Logistik, Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Indonesia
  • Soemino Eko Saputro Program Studi Infrastruktur dan Lingkungan, Fakultas Teknik Transportasi dan Logistik, Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.38035/jafm.v7i1.3133

Keywords:

LRT Jakarta, Pola Operasi, Headway, Jadwal Perjalanan, Kapasitas Lintas, GAPEKA

Abstract

Pengembangan sistem transportasi berbasis rel di kawasan perkotaan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas serta meningkatkan mobilitas masyarakat. Penelitian ini menganalisis pola operasi, headway, jadwal perjalanan kereta api, kapasitas lintas, dan kebutuhan sarana Light Rail Transit (LRT) Jakarta lintas Pegangsaan Dua-Manggarai setelah perpanjangan fase 1B. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data observasi, waktu tempuh, jarak antarstasiun, spesifikasi sarana, dan proyeksi demand 107.986 penumpang per hari pada skenario moderat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario pertama dengan formasi 1 trainset 2 kereta menghasilkan headway 5 menit, 422 perjalanan per hari, kapasitas angkut 113.940 penumpang per hari, dan kebutuhan 12 trainset. Skenario kedua dengan formasi 1 trainset 4 kereta menghasilkan headway 11 menit, 200 perjalanan per hari, kapasitas angkut 108.000 penumpang per hari, dan kebutuhan 6 trainset. Penyusunan jadwal perjalanan dan visualisasi GAPEKA menunjukkan bahwa kedua skenario masih berada di bawah kapasitas lintas, tetapi skenario pertama lebih unggul dari sisi frekuensi layanan sedangkan skenario kedua lebih efisien dari sisi armada operasi.

References

Budhi, W. S. (2020). Analisa kapasitas lintas jalan rel metode Indonesia dan metode UIC Code 405 segmen Surabaya-Madiun.

Ceder, A. (2016). Public Transit Planning and Operation. CRC Press.

Litman, T. (2022). Evaluating Transportation Equity: Guidance for Incorporating Distributional Impacts in Transport Planning. ITE Journal, 92(4), 44-49.

Pangestu, I. S. (2022). Optimalisasi Headway LRT Jakarta Fase 1.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 110 Tahun 2017 tentang Tata Cara dan Standar Pembuatan Grafik Perjalanan Kereta Api.

Supriadi. (2008). Perencanaan dan Pengoperasian Perkeretaapian.

Utami, C. P., Jnnr, S. A., & Setiawan, D. (2019). Studi Pola Operasi Kereta Api Jalur Ganda Sumber Agung-Sungai Lilin.

Vuchic, V. (2007). Urban Transit Systems and Technology. Wiley.

Published

2026-03-20

How to Cite

Nugroho, A., Suryono, T., Ulum, S., Mulyani, H., & Eko Saputro, S. (2026). Analisis Pola Operasi dan Kebutuhan Sarana Light Rail Transit (LRT) Jakarta Lintas Pegangsaan Dua-Manggarai. Journal of Accounting and Finance Management, 7(1), 89–94. https://doi.org/10.38035/jafm.v7i1.3133

Similar Articles

<< < 14 15 16 17 18 19 20 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.