Transformasi Tari Melayu dalam Budaya Kontemporer: Komodifikasi, Digitalisasi, dan Preservasi Dinamis
DOI:
https://doi.org/10.38035/jkis.v4i3.3691Keywords:
budaya kontemporer, digitalisasi, komodifikasi budaya, preservasi dinamis, tari MelayuAbstract
Tradisi tari Melayu merupakan bagian dari sistem budaya yang mengintegrasikan nilai adat, agama, sejarah, estetika, dan identitas masyarakat. Dalam budaya kontemporer, tari Melayu tetap bertahan sekaligus mengalami perubahan bentuk, fungsi, dan makna akibat institusionalisasi, komodifikasi, digitalisasi, dan globalisasi budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksistensi dan transformasi tari Melayu di Indonesia serta merumuskan strategi pelestarian yang mampu menyeimbangkan autentisitas dan adaptasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan wawancara dengan seniman, budayawan, serta akademisi tari Melayu. Data diolah melalui analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Melayu mengalami kondisi ambivalen. Institusionalisasi dan digitalisasi memperluas ruang pertunjukan, dokumentasi, regenerasi, dan pengenalan budaya. Akan tetapi, logika industri budaya mendorong pemadatan durasi, penyederhanaan koreografi, modifikasi musik, standardisasi kostum, serta pergeseran orientasi dari ritualistik-spiritual menuju representatif-visual. Transformasi tersebut menghasilkan kondisi survival without essence, yaitu keberlanjutan bentuk pertunjukan yang tidak selalu diikuti transmisi pengetahuan historis, filosofis, dan spiritual. Oleh karena itu, pelestarian tari Melayu perlu dilakukan melalui preservasi dinamis yang mengintegrasikan komunitas, pendidikan, teknologi digital, kebijakan negara, dan keberlanjutan ekonomi. Pelestarian tidak hanya diarahkan pada keberlangsungan bentuk, tetapi juga pada kesinambungan nilai, pengetahuan, dan konteks budaya yang melandasinya
References
Ali, A. H., & Azura, N. I. S. bt. (2024). Kepentingan Teater Melayu Tradisional Dalam Industri Kreatif. Rumpun Jurnal Persuratan Melayu, 12(2), 70–82.
Chanifudin. (2023). Makna dan Nilai Budaya Melayu: Studi Kasus pada Tari Zapin Melayu. Jurnal Tamaddun, 11(1). https://doi.org/https://doi.org/10.24235/tamaddun.v11i1.13081
Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. In The spectacle of the other (pp. 223–290).
Heryanto, A. (2019). Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Gramedia.
Hidajat, R., Sayono, J., Hasyimy, M. A., & Ratna, D. (2021). Tafsir Tari Zapin Arab dan Melayu dalam Masyarakat Melayu Tafsir Arabic and Malay Zapin Dance in Malay Society. 4(2), 1266–1273. https://doi.org/10.34007/jehss.v4i2.935
Huang, Y., & Mustafa, M. (2026). From cultural heritage to platformized craft: Visual participation and cultural governance in China’s jade-carving art. International Journal of Cultural Studies, 29(4), 597–618. https://doi.org/10.1177/13678779261420225
Indah, I. Y., Ediwar, E. E., & Martion, M. M. (2017). Estetika Tari Zapin sebagai Sumber Penciptaan Karya Kaki-Kaki. Bercadik, 1(1), 217826.
Kartika, S. D., & Idawati. (2024). Apresiasi Remaja Terhadap Kesenian Tari Tradisi Zapin Meskom di Desa Pakning Asal Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Jurnal Rentak Seni, 1(2), 110–120.
Lenzerini, F. (2011). Intangible Cultural Heritage: The Living Culture of Peoples. European Journal of International Law, 22(1), 101–120. https://doi.org/10.1093/ejil/chr006
Maele, S. A., Zakaria, M., & Antu, A. W. (2022). Tari Monamot dalam Pemahaman Masyarakat Desa Bunobogu Kabupaten Buol. INVENSI, 7(1), 47–60. https://doi.org/10.24821/invensi.v7i1.6085
Marzuki, D. I. (2019). Mengungkap Makna Budaya Melayu Deli Dalam Prosesi Perkawinan (Studi Tentang Gagasan Fungsi Pantun dan Tarian dalam Prosesi Perkawinan Melayu). Khazanah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam, 9(1), 51–67.
Mastura, A., & Darwis, M. (2023). NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM PADA SYAIR TARI ZAPIN API DI DESA TELUK RHU KECAMATAN RUPAT UTARA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dan Keislaman, 3(3), 285–293. https://doi.org/10.55883/jipkis.v3i3.82
Piliang, Y. A. (2020). Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Cantrik Pustaka.
Putri, M. S. (2025). Digital Literacy and Cultural Expression: How TikTok Reimagines Traditional Dance. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 12(11), 242–251. https://doi.org/http://ijmmu.comhttp//dx.doi.org/10.18415/ijmmu.v12i11.7138
Schechner, R. (2013). Performance Studies: An Introduction. Routlede Taylor & Francis Group.
Shulha, A. A., & Febri Hendra, D. (2024). Malay Dance in Malay Society. Manatin - the Journal of Economic Management and Business Technology Innovation, 1, 18–25.
Spano, I., & Zhang, Y. (2025). Indigenous data sovereignty in intangible cultural heritage governance: A complementary approach to public–private partnerships. International Journal of Cultural Property, 32(2), 167–193. https://doi.org/10.1017/S0940739125100064
Syefriani, & Saearani, M. F. T. (2025). Digital cultural transmission: TikTok as a medium for the preservation and learning of Riau Malay Dance in informal communities. Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Seni, 20(2), 2685287. https://doi.org/https://doi.org/10.33153/dewaruci.v20i2.7716
Takari, M. (2005). KOMUNIKASI DALAM SENI PERTUNJUKAN MELAYU. 1(2), 126–160.
Tiba, D. A. S., Supadmi, T., & Hartati, T. (2016). Bentuk Penyajian Tari Zapin Pekajang di Sanggar Buana Kota Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, Dan Musik, 1(3), 221–228.
Tjahjodiningrat, H., & Supiarza, H. (2023). Perkembangan Seni Tarling Dalam Bingkai Media Sebagai Strategi Pelestarian Budaya Lokal. Jurnal Kajian Seni, 10(1), 45–63.
UNESCO. (2015). Guidance Note for Inventorying Intangible Cultural Heritage. UNESCO.
UNESCO. (2025). Living heritage: Safeguarding without freezing. UNESCO.
Vidaurre-Rojas, P., Vela-Reátegui, S. J., Pinedo, L., Valles-Coral, M., Navarro-Cabrera, J. R., Rengifo-Hidalgo, V., López-Sánchez, T. del P., Seijas-Díaz, J., Cárdenas-García, Á., & Cueto-Orbe, R. E. (2024). A social media adoption strategy for cultural dissemination in municipalities with tourist potential: Lamas, Peru, as a case study. Built Heritage, 8(1), 12. https://doi.org/10.1186/s43238-024-00128-1
Wasela, K. (2023). The Role of Intangible Cultural Heritage in the Development of Cultural Tourism. International Journal of Eco-Cultural Tourism, Hospitality Planning and Development, 6(2), 15–28. https://doi.org/10.21608/ijecth.2024.297283.1004
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Gunawan Wiradharma, Mario Aditya Prasetyo, Pamela Mikaresti

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Hak cipta :
Penulis yang mempublikasikan manuskripnya di jurnal ini menyetujui ketentuan berikut:
- Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis.
- Penulis mengakui bahwa Jurnal Komunikasi dan Ilmu Sosial (JKIS) berhak menjadi yang pertama menerbitkan dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (Attribution 4.0 International CC BY 4.0) .
- Penulis dapat mengirimkan artikel secara terpisah, mengatur distribusi non-eksklusif manuskrip yang telah diterbitkan dalam jurnal ini ke versi lain (misalnya, dikirim ke repositori institusi penulis, publikasi ke dalam buku, dll.), dengan mengakui bahwa manuskrip telah diterbitkan pertama kali di JKIS.






















