Adaptasi Komunikasi dan Pembentukan Konsep Diri Anak Pasca Perceraian: Analisis Teori Interaksionalisme Simbolik

Authors

  • Bagas Mulyadi Communication Science Study Program, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia.
  • Eka Anisa Sari Communication Science Study Program, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Indonesia.

DOI:

https://doi.org/10.38035/jkis.v4i3.3759

Keywords:

Communication Adaptation, Self-Acceptance, Parental Social Support, Parental Divorce, Symbolic Interactionism

Abstract

Perceraian orang tua berdampak nyata pada kondisi psikologis dan pola interaksi sosial anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penerimaan diri, pembentukan konsep diri, dan adaptasi komunikasi anak dari keluarga bercerai di lingkungan sekolah serta masyarakat. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan Teori Interaksionisme Simbolik, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima partisipan remaja, dewasa muda di Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan diri tercapai ketika anak mampu memisahkan konflik orang tua dari identitas pribadinya. Konsep diri positif terbentuk berkat adanya dukungan sosial dan empati lingkungan sebagai cermin sosial. Selain itu, adaptasi komunikasi dilakukan secara fleksibel dan selektif, di mana dukungan emosional terbukti lebih berpengaruh daripada dukungan materi dalam menciptakan keterbukaan interaksi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep diri dan adaptasi komunikasi anak pasca perceraian sangat ditentukan oleh kualitas interaksi sosial sehari-hari.

References

Alysia, N., & Laksmiwati, A. R. (2024). Penerimaan diri remaja broken home dalam membentuk konsep diri. Jurnal Psikologi Positif, 9(2), 134–142.

Alwinda, F., & Setyanto, Y. (2021). Komunikasi Antar Pribadi Orangtua-Anak Pasca Perceraian. Koneksi, 5(2), 245–251. https://doi.org/10.24912/kn.v5i2.10282

Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta. (2025, Februari 27). Nikah dan cerai menurut kabupaten/kota (kejadian) di Provinsi DI Yogyakarta, 2024. BPS DI Yogyakarta

Bermasyarakat, D. K., Cooley, C. H., Hebert, G., & Blumer, H. (n.d.). Penulis Dosen Prodi Pelayanan Pastoral STP IPI Malang. 118–131.

Cahyarity, T. I., Putri, N. D., Dania, N. R., Utami, F. R., & Arman, E. (2025). Systematic literature review: Dampak perceraian orang tua terhadap kondisi psikologis remaja. Tsaqofah: Jurnal Penelitian Guru Indonesia, 5(1), 547-555. https://doi.org/10.58578/tsaqofah.v5i1.4547

Fanani, R. I., & Siregar, R. A. (2021). Peran komunikasi interpersonal orang tua dalam menjaga keharmonisan pasca perceraian. Jurnal Ilmu Komunikasi, 19(1), 25–36.

Feriyanto, D., Lesmana, H. T., & Yoanita, M. (2022). Strategi coping anak laki-laki korban perceraian dalam komunikasi sosial. Jurnal Psikologi Remaja, 6(2), 58–67.

Islamyazizah, A., Abdillah, R., & Pohan, H. D. (2026). Peran Dukungan Sosial terhadap Self-Acceptance Remaja dalam Konteks Perceraian Orang Tua di Kota Bekasi. LIBEROSIS: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling, 17(2). https://doi.org/10.6734/LIBEROSIS.V2I2.3027.

Isman, F. R., & Kolega, M. A. (2022). Makna simbolik anak terhadap perceraian orang tua. Jurnal Sosiologi Reflektif, 16(1), 120–134.

Kim, Y. Y. (2016). Becoming intercultural: An integrative theory of communication and cross-cultural adaptation. SAGE Publications.

Kleinschlömer, P., & Krapf, S. (2023). Parental separation and children’s well-being: Does the quality of parent-child relationships moderate the effect? Journal of Social and Personal Relationships, 40(12). https://doi.org/10.1177/02654075231201564

Latifah, S., Adiwinata, H. A., & Nadirah, A. N. (2023). Penerimaan diri anak terhadap perceraian orang tua. Jurnal Kajian Gender dan Anak, 7(1), 1–15. Retrieved from http://jurnal.iain-padangsidimpuan.ac.id/index.php/JurnalGender/index

Maharani, D., & Adriansyah, A. M. (2021). Hubungan penerimaan diri dan dukungan sosial terhadap adaptasi sosial pada anak korban perceraian orang tua. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 9(2), 909–920. https://doi.org/10.30872/psikoborneo

Meiyuntariningsih, I., & Aristawati, R. (2023). Pengaruh dukungan sosial terhadap tingkat stres remaja korban perceraian. Jurnal Psikologi Empati, 15(3), 213–226.

Putri, W. L., Rahman, R., & Widodo, S. (2023). Penerimaan diri pada anak dari keluarga bercerai: Studi kuantitatif di kota besar. Jurnal Psikologi Sosial, 11(2), 44–59.

Radini, A., & Tondok, M. S. (2025). Hubungan antara dukungan sosial dan harga diri pada penerimaan diri anak yang mengalami perceraian. Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi dan Kesehatan (J-P3K), 6(2), 491-495. https://doi.org/10.51849/j-p3k.v6i2.693

Ratnasari, S. N. (2024). Perubahan relasi dan strategi adaptasi pada anak pasca perceraian orang tua. Jurnal Psikologi Perkembangan, 5(1), 1–6.

Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081.

Salsabila, N. (2024). Pemulihan psikologis remaja pasca perceraian: Studi kasus di Yayasan Al-Kamilah. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, 10(1), 77–89.

Suroso, U., & Arsanti, M. (2023). Perceraian dan perkembangan psikologis anak: Analisis tematis tinjauan literatur. Legitima: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 5(2), 331–346.

Tahir, F., Kurniawan, A., & Rofik, M. (2024). Pembentukan makna diri pada anak tanpa figur ayah. Jurnal Psikologi Keluarga, 8(1), 100–115.

Tribun Jogja. (2025, Agustus 8). 3 Kabupaten dengan jumlah perceraian tertinggi di DIY, Bantul ranking 2. Tribun Jogja

Yustisia, A. B., & Satwika, W. Y. (2023). Gambaran sosial-emosional pada masa kanak-kanak madya dengan orang tua yang bercerai. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 10(3), 390–412.

Zei Li, P. N., Purwasetiawatik, T. F., & Aditya, A. M. (2023). Gambaran Penerimaan Diri pada Anak yang Orang Tuanya Bercerai. Jurnal Psikologi Karakter, 3(2), 644–649. https://doi.org/10.56326/jpk.v3i2.2563Bermasyarakat, D. K., Cooley, C. H., Hebert, G., & Blumer, H. (n.d.). Penulis Dosen Prodi Pelayanan Pastoral STP IPI Malang. 118–131.

Published

2026-08-29