Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Salep dan Pasta Berbasis Ekstrak Daun Benalu Teh serta Aktivitas Antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis

Authors

  • Maulana Tegar Adityanugraha Universitas Tidar, Magelang, Indonesia
  • Ferli Eko Kurniantoro Prodi Farmasi, Universitas Madani, Yogyakarta, Indonesia
  • Tri Antoro Usaha Kecil Obat Tradisional Dharma Husada, Yogyakarta, Indonesia
  • I Made Dinaartawan Usaha Kecil Obat Tradisional Dharma Husada, Yogyakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.38035/dhps.v4i1.3659

Keywords:

Daun Benalu Teh, Salep, Pasta, Antibakteri, Staphylococcus Epidermidis

Abstract

Daun benalu teh (Scurrula atropurpurea (Blume) Dans.) diketahui memiliki potensi sebagai tanaman obat tradisional karena kandungan metabolit sekundernya, termasuk flavonoid, tanin, dan saponin, yang memiliki aktivitas antibakteri. Namun, penggunaan langsung ekstrak daun benalu teh pada kulit dianggap kurang praktis dan kurang nyaman. Oleh karena itu, ekstrak tersebut diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan pasta. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisik sediaan salep dan pasta yang mengandung ekstrak etanol daun benalu teh serta menentukan aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus epidermidis. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental. Serbuk daun benalu teh diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak pekat yang diperoleh kemudian diformulasikan menjadi sediaan salep dan pasta dengan konsentrasi ekstrak masing-masing 5%, 10%, dan 15%. Evaluasi sifat fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat. Aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis diuji menggunakan metode difusi sumuran agar. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan salep dan pasta memiliki karakteristik organoleptik yang dapat diterima, homogenitas yang baik, nilai pH yang berada dalam rentang yang sesuai untuk sediaan topikal, daya sebar yang memenuhi persyaratan, serta daya lekat yang baik. Hasil pengujian antibakteri menunjukkan bahwa sediaan salep menghasilkan diameter zona hambat rata-rata sebesar 18 mm, 21 mm, dan 24 mm pada konsentrasi ekstrak 5%, 10%, dan 15%, secara berturut-turut. Sementara itu, sediaan pasta menghasilkan diameter zona hambat rata-rata sebesar 16 mm, 19 mm, dan 22 mm pada konsentrasi yang sama. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak dapat meningkatkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. Kesimpulannya, ekstrak etanol daun benalu teh yang diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan pasta memiliki karakteristik fisik yang baik serta menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis, dengan efektivitas antibakteri yang meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak

References

Dewi, A. S., Yuniarni, U., & Mulqie, L. (2023). Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun benalu teh (Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans) terhadap bakteri penyebab jerawat (Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis). Bandung Conference Series: Pharmacy, 3(2). https://doi.org/10.29313/bcsp.v3i2.9015

Priyanto, J. A., Pujiyanto, S., & Rukmi, I. (2014). Flavonoids production capability test of tea mistletoe (Scurrula atropurpurea Bl. Dans) endophytic bacteria isolates. Jurnal Sains dan Matematika, 22(4), 89–96.

Salamah, F. Z., Athiroh, N., & Ramadhan, M. (2024). A comparison of antioxidant activity in tea mistletoe (Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans.) leaf extracts using DPPH assay. International Conference on Education, Science, Technology and Health (ICONESTH).https://doi.org/10.46244/iconesth.vi.430

Athiroh, N., & Sulistyowati, E. (2013). Scurrula atropurpurea increases nitric oxide and decreases malondialdehyde in hypertensive rats. International Journal of Pharmacology, 9(4), 245–250.

Cowan, M. M. (1999). Plant products as antimicrobial agents. Clinical Microbiology Reviews, 12(4),564–582.https://doi.org/10.1128/CMR.12.4.564

Cushnie, T. P. T., & Lamb, A. J. (2005). Antimicrobial activity of flavonoids. International Journal of Antimicrobial Agents, 26(5), 343–356. https://doi.org/10.1016/j.ijantimicag.2005.09.002

Daglia, M. (2012). Polyphenols as antimicrobial agents. Current Opinion in Biotechnology, 23(2), 174–181. https://doi.org/10.1016/j.copbio.2011.08.007

Gibbons, S. (2008). Anti-staphylococcal plant natural products. Natural Product Reports, 25, 152–172. https://doi.org/10.1039/B612371M

Otto, M. (2009). Staphylococcus epidermidis—the “accidental” pathogen. Nature Reviews Microbiology, 7, 555–567. https://doi.org/10.1038/nrmicro2182

Severn, M. M., & Horswill, A. R. (2023). Staphylococcus epidermidis and its dual lifestyle in skin health and infection. Nature Reviews Microbiology, 21, 97–111.

https://doi.org/10.1038/s41579-022-00780-3

Lee, D. H., Lee, K., Kim, Y. S., & Cha, C. J. (2024). Comprehensive genomic landscape of antibiotic resistance in Staphylococcus epidermidis. mSystems, 9(6), e0022624.

https://doi.org/10.1128/msystems.0022624

Siciliano, V., Passerotto, R. A., Chiuchiarelli, M., Leanza, G. M., & Ojetti, V. (2023). Difficult-to-treat pathogens: A review on the management of multidrug-resistant Staphylococcus epidermidis. Life, 13(5), 1126.

https://doi.org/10.3390/life13051126

Ghosh, S., Singh, S., & Kaushik, P. (2025). Methicillin-resistant Staphylococcus epidermidis (MRSE): An updated narrative review on epidemiology, resistance mechanisms, and emerging treatment strategies. Anti-Infective Agents.

https://doi.org/10.2174/0122113525388954250603114510

World Health Organization. (2023). Antimicrobial resistance: Global report on surveillance. Geneva: World Health Organization.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Farmakope Herbal Indonesia Edisi II. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Farmakope Indonesia Edisi VI. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Rowe, R. C., Sheskey, P. J., & Quinn, M. E. (2019). Handbook of Pharmaceutical Excipients (9th ed.). London: Pharmaceutical Press.

Aulton, M. E., & Taylor, K. (2018). Aulton’s Pharmaceutics: The Design and Manufacture of Medicines (5th ed.). London: Elsevier.

Ansel, H. C. (2014). Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems (10th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Lachman, L., Lieberman, H. A., & Kanig, J. L. (1994). Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta: UI Press.

Usman, W. F., Widianti, R. A., & Shaleh, A. B. (2024). Formulation and physical evaluation of ointment preparations from variations of pomegranate fruit extract (Punica granatum L.). Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, 7(1), 240–247.

https://doi.org/10.52216/jfsi.vol7no1p240-247

Mailani, S. L., Sulastri, T., & Suwitono, M. R. (2025). Formulation and physical evaluation of ointment containing Ageratum conyzoides L. leaf extract as a herbal medicine. Jurnal Biologi Tropis, 25(4).

https://doi.org/10.29303/jbt.v25i4a.10687

Sarker, S. D., Latif, Z., & Gray, A. I. (2006). Natural Products Isolation (2nd ed.). Totowa: Humana Press.

Harborne, J. B. (1998). Phytochemical Methods: A Guide to Modern Techniques of Plant Analysis (3rd ed.). London: Chapman & Hall.

Brooks, G. F., Carroll, K. C., Butel, J. S., Morse, S. A., & Mietzner, T. A. (2013). Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology (26th ed.). New York: McGraw-Hill.

Published

2026-07-23

How to Cite

Adityanugraha, M. T., Kurniantoro, F. E., Antoro, T., & Dinaartawan, I. M. (2026). Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Salep dan Pasta Berbasis Ekstrak Daun Benalu Teh serta Aktivitas Antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. Dinasti Health and Pharmacy Science, 4(1), 47–57. https://doi.org/10.38035/dhps.v4i1.3659